Sabtu, 13 Juni 2020

4 Pilar kokohnya Dunia

Di zaman akhir ini banyak kejadian
atau peristiwa yang memilukan. Dari maraknya kejahatan, kerusuhan dan
sebagainya. Inilah indikator bahwa zaman ini adalah zaman akhir. Kerena diantara
tanda-tanda datangnya hari kiamat adalah dengan merajalelanya kejahatan.

Namun jika empat pilar dunia masih
kokoh berdiri maka insyaallah dunia ini juga masih kokoh. Adapun empat pilar dunia
yang termaktub dalam kitab Durratun Nashihin (h-47) adalah
sebagai berikut:

قوام الدنيا بأربعة أشياء. أولها بعلم العلماء والثانى بعدل الأمراء
والثالث بسخاوةالأغنياء والرابع بدعوة الفقراء.

Dunia dibangun dengan empat perkara,
yang pertama adalah dengan ilmunya ulama’, yang kedua dengan adilnya penguasa,
yang ketiga dengan kedermawanan orang-orang kaya dan keempat dengan doanya para
fakir miskin.

Itulah empat pilar dunia. Selama
empat pilar tersebut masih tegak berdiri maka hari kebinasaan juga masih belum
waktunya. Oleh karena itu, selagi masih ada waktu untuk bertaubat atas semua
dosa dan memperbaiki atas kesalahan maka gunakanlah waktu ini sebaik mungkin.

Adapun empat pilar tersebut sesuai
dengan keterangan ulama’ adalah sebagai berikut:

Pertama, ilmu orang-orang alim (ulama’). Ulama’ merupakan sebutan bagi
orang-orang tertentu yang memiliki pengetahuan agama yang mempuni. Selain itu,
ulama’ merupakan orang-orang yang integritas keimanan dan ketakwaan yang kokoh.

Eksistensi ulama’ sangat berpengaruh
pada peradaban bangsa khususnya bangsa Indonesia. Sebab ulama’ mendedikasikan
dirinya pada negara dan bangsa sesuai dengan kapasitasnya, yaitu mengarahkan
dan membimbing bangsa ke jalan yang lurus sesuai ajaran Islam.

Maka layak sekali manusia menghormati
ulama’ yang masih tersisa di negeri ini. Dan senantiasa belajar dan mengamalkan
ilmu dari para ulama’, sebelum Allah mencabut ilmu itu. Karena cara Allah
mencabut suatu ilmu adalah dengan mewafatkan para ulama’.

Rasulullah bersabda: sesungguhnya
Allah tidak mengangkat ilmu dengan sekali cabutan dari para hambaNya, akan tetapi
Allah mengangkat ilmu dengan wafatnya para ulama’.  Ketika tersisa lagi seorang ulama’pun maka manusia
bertanya kepada orang-orang bodoh. Mereka bertanya, maka mereka (orang-orang
bodoh) berftwa tanpa ilmu. Mereka sesat menyesatkan. 
(HR. Bukhari)

Kedua, keadilan pemimpin. Setiap orang pasti mengingkan pemimpin yang
adil, baik pemimpin secara struktural seperti pemimpin negara, sampai tingkat RT,
maupun pemimpin non struktural seperti pemimpin rumah tangga sampai pemimpin
untuk dirinya sendiri.

Sebagai seorang muslim kita dituntut
untuk bisa meneladani kepemimpinan Rasullullah dan khulafa ar-rasyidin terutama
Umar bin Khattab. Rekam jejak beliau menunjukkan bagaimana jiwa seorang leader
yang sesungguhnya.

Potret kepemimpinan beliau yang
dikagumi banyak kalangan adalah pemimpin yang tegas dan pemberani hingga beliau
dijuluki asadullah (singa Allah). Walaupun terkenal sebagai sosok yang
tegas beliau juga memiliki jiwa sosial yang tinggi, rasa tanggung jawab yang
tinggi terhadap rakyatnya. Beliau juga lebih mengutamakan rakyatnya dari pada
golongannya sendiri bahkan dari dirinya sendiri.
Di Indonesia salah satu pemimpin
yang dapat dijadikan panutan adalah alm. BJ. Habibi yang kepergiannya menghadap
sang Ilahi menyisakan luka yang mendalam bagi bangsa Indonesia pada khususnya.  Beliau juga bisa dikatakan paket komplit. Di
samping itu beliau adalah sosok inspiratif yang mengintegrasikan imtek dan imtaq,
sehingga banyak jasa-jasanya yang dapat dinikmati oleh semua elemen masyarakat,
di antaranya demokrasi.

Ketiga, kedermawanan para kaya dan konglomerat. Salah satu bentuk
mensyukuri nikmat Tuhan yang tiada tara ini adalah dengan bersedekah. Berbagi
tidak menjadikan harta kita menjadi miskin justru akan semakin bertambah dan
bertambah. Di samping itu sedekah mendatangkan keberkahan hidup sehingga hidup
damai dan tenang dan malas berbuat keburukan.

عن النبى صلى الله عليه وسلم : الصدقة تسد سبعين بابا من السؤ. (درة
الناصحين : ٣٦٠)

Dari Nabi SAW: sedekah menutup tujuh
puluh pintu keburukan.

Sosok inspiratif dari kalangan
sahabat yang terkenal kaya raya dan dermawan adalah Abdurrahman bin Auf.
Kedermawanan beliau akan selalu dikenang sepanjang masa. Konon beliau adalah pengusaha
keju dan mantega yang sukses. Beliau berkontribusi besar terhadap pembiayaan setiap
peperangan sehingga beliau mendapatkan doa secara khusus dari Nabi sehingga
kakayannya semakin melambung tinggi.

Keempat, doanya para fakir miskin. Hal yang paling memungkinkan yang dapat
dilakukan oleh orang fakir miskin adalah berdoa. Karena berdoa tidak memerlukan
ilmu yang tinggi, keadilan apalagi kekayaan. Cukup iman dan keyakinan itu sudah
cukup. Di dalam hidup yang penuh keterbatasan ekonomi dan finansial namun tetap
bersabar adalah modal utama diterimanya doa.

Sosok inspiratif yang memiliki kontribusi
besar dalam hal kemiskinan adalah Abdurrahman bin Shake Ad-Dausi Al-yamani. Mungkin
kebanyakan orang merasa asing dengan nama itu. Namun ketika nama lainnya
disebutkan pasti semua orang mengetahuinya. Siapa beliau? Abu Hurairah. Dijuluki
Abu Hurairah kerana beliau sangat menyayangi seekor kucing.

Beliau adalah sahabat Nabi yang
paling miskin. Lantas kemiskinan beliau tidak menjadikan dirinya hina. Akan
tetapi beliau memanfaatkannya untuk hal-hal yang sangat baik. Dimana kaum
Muhajirin sibuk dengan dagangannya sementara kaum Anshar sibuk dengan
pertaniannya. Karena beliau sangat miskin lantas beliau tidak punya dagangan
dan pertanian sehingga beliau lebih banyak menghabiskan waktu bersama
Rasulullah. Sehingga beliau terkenal paling banyak menghafalkan hadis di antara
para sahabat yang lainnya. Pada masanya beliau menghafalkan hadis sebanyak 5.374
buah hadis.
Itulah empat pilar kokohnya dunia.
Keempatnya wajib kita jaga dan lestarikan bersama. Sebab, dikatakan pula:

ولولا علم العلماء لهلك الجاهلون ولولا سخاوة الأغنياء لهلك الفقراء ولولا
دعاء الفقراء لهلك الأغنياء ولو لا عدل الأمراء لأكل بعض الناس بعضا كما ياءكل
الذئب الغنم (درة الناصحين:٤٨)
Seandainya
tidak ada ilmunya ulama’ maka celaka orang-orang bodoh dan jika tidak ada kedermawanan
orang kaya maka celaka orang-orang fakir miskin dan jika tidak ada doanya orang
fakir miskin maka celaka orang-orang kaya dan jika tidak ada keadilan pemimpin
maka sebagian manusia akan memangsa sebagian manusia yang lain bagaikan serigala
yang memangsa kambing.

Oleh karena itu, jika hal tersebut
terjadi maka berarti pilar-pilar dunia sudah roboh dan hancur dan tunggulah
kehancuran dunia ini. Semuga kita kembali pada ilahi dalam keadaan yang khusnol
khatimah. Ya’ rabbal alamin.

Romli Santri Pondok Pesantren Darul Istiqomah Batuan Sumenep

Minggu, 07 Juni 2020

Tidak Ada Jabatan Yang Abadi Didunia ini


Belajar Menertawakan Diri Sendiri dari Gus Dur

Penulis: Ivan Aulia Ahsan
30 Desember 20

Belajar Menertawakan Diri Sendiri dari Gus Dur
Satu hal yang paling menonjol dari Gus Dur adalah kemampuannya menertawakan diri sendiri lewat lelucon.

tirto.id - Beberapa pekan setelah menjadi presiden pada 1999, Abdurrahman Wahid berpidato di depan para tamu negara asing. Peristiwanya terjadi di Denpasar, Bali. Ia berpidato dalam bahasa Inggris tanpa teks. Di awal pidato, orang yang akrab disapa dengan panggilan Gus Dur ini berujar:

“Saya dan Megawati adalah pasangan  dan wakil presiden yang lengkap: saya tidak bisa melihat, dia tidak bisa ngomong."

Semua tamu ger-geran tanpa kecuali. Gus Dur bersikap biasa saja melihat orang tertawa bahak-bahak. Wajahnya lempang belaka. 

Waktu itu banyak omongan soal wakil presiden yang irit bicara. Megawati Soekarnoputri jarang sekali memberi komentar soal apapun. Gus Dur, sementara itu, hampir saban hari mengeluarkan pernyataan-pernyataan kontroversial yang sering bikin panas berita-berita di surat kabar.

Diamnya Megawati memang membuat orang bertanya-tanya, terutama menyangkut kapasitas pribadinya sebagai wakil presiden dan ketidakcocokannya dengan sang presiden. Gus Dur tahu betul tentang itu dan ia mencoba menetralkan situasi dengan kemampuannya yang menyenangkan: lelucon dan menertawakan diri sendiri.

"Maju saja Susah, Apalagi Mundur"

Pada kesempatan lain, ketika desakan pengunduran diri kepada Gus Dur makin kencang di mana-mana, Emha Ainun Nadjib mampir ke istana. Berdasarkan cerita yang pernah dituturkan Emha, ia mendatangi lelaki kelahiran Jombang, 7 September 1940 itu sebagai seorang sahabat yang bermaksud mengingatkan.

“Gus, sudahlah, mundur saja. Mundur tidak akan mengurangi kemuliaan sampeyan," kira-kira begitu kata Emha kepada Gus Dur.

Jawaban Gus Dur: “Aku ini maju aja susah, harus dituntun, apalagi suruh mundur."

Dua orang itu ngakak.

Waktu itu memang posisi Gus Dur berada di ujung tanduk. Sepanjang Juni-Juli 2001, lawan-lawan politiknya terus menyerang dengan isu Buloggate lewat DPR dan MPR. Suasana memanas akibat pendukung Gus Dur dan penentangnya tiap hari melakukan demonstrasi dan unjuk kekuatan di depan istana. Gus Dur sempat mengeluarkan senjata pamungkas berupa Dekrit Presiden yang salah satu poinnya adalah membekukan DPR dan MPR.

Dekrit yang dikeluarkan pada 23 Juli 2001 pukul 01.10 itu ditentang banyak institusi negara, termasuk TNI dan Mahkamah Agung. MA bahkan mengeluarkan fatwa di hari itu juga bahwa dekrit Gus Dur bertentangan dengan hukum. 

Siang harinya, Gus Dur berpendapat fatwa MA tersebut sebagai sesuatu yang tidak sah. "Pertimbangan itu tidak diputuskan melalui sidang dalam Mahkamah agung melainkan hanya oleh Ketua MA saja," kata Juru Bicara Kepresidenan Yahya C. Staquf, seperti dilaporkan Kompas (23/7/2001).

Tapi langkah-langkah politik Gus Dur sudah begitu lunglai. Segala jurus yang dikeluarkannya percuma saja karena dukungan politik kian surut. Akhirnya, Gus Dur benar-benar mundur.

Ada peristiwa yang kemudian jadi ikonik ketika di malam sebelum ia meninggalkan istana, Gus Dur melambaikan tangan kepada para pendukungnya. Busana yang dipakai: baju tidur, celana pendek, dan sandal jepit.

Malam itu, ia menjadi Presiden RI pertama yang menampakkan diri kepada publik dengan celana pendek di Istana Negara.

Mantan Presiden yang Tetap Lucu

Setelah turun dari jabatan presiden, Gus Dur tetap sibuk dan tetap lucu. Ia masih melakukan safari ke daerah-daerah. Biasanya untuk berkunjung ke teman-temannya atau mengisi pengajian sampai kampung-kampung yang jauh.

Pada suatu ceramah di sebuah kampung, Gus Dur mengajak semua yang hadir di situ bersalawat. Para hadirin senang sekali melafalkan salawat dipimpin seorang kiai besar.

Di akhir ceramah, cucu pendiri NU K.H. Hasyim Asy'ari itu nyeletuk.

“Saya minta Anda semua bersalawat agar tahu berapa banyak jumlah yang hadir. Saya, kan, gak bisa melihat."

Satu lapangan terpingkal-pingkal.

Salah satu humor Gus Dur yang paling dikenal adalah leluconnya soal kedekatan Tuhan dengan umat beragama. Ini juga mengandung unsur penertawaan diri terhadap sesuatu yang dianggap sakral tapi sering dipahami secara kaku: agama.

“Orang Hindu merasa paling dekat dengan Tuhan karena mereka memanggilnya ‘Om’. Orang Kristen apalagi, mereka memanggil Tuhannya dengan sebutan ‘Bapak’. Orang Islam? Boro-boro dekat, manggil Tuhannya aja pakai Toa."

Seluruh Indonesia, tentu saja, tertawa.


Gus Dur memang sangat lihai memainkan lelucon penertawaan diri sendiri sekaligus mencairkan ketegangan politik lewat humor. Dengan begitu, politik tak lagi muram dan hubungan sosial tidak kehilangan makna.

Kala mengomentari soal betapa banyak uang yang dikeluarkan seseorang untuk menjadi capres, Gus Dur berseloroh, “Saya dulu jadi presiden cuma modal dengkul, itupun dengkulnya Amien Rais.

Kata Pengantar buku Mati Ketawa Cara Rusia (1986): “Kemampuan untuk menertawakan diri sendiri adalah petunjuk adanya keseimbangan antara tuntutan kebutuhan dan rasa hati di satu pihak, dan kesadaran akan keterbatasan diri di pihak lain."

Gus Dur wafat pada 30 Desember 2009, tepat hari ini 9 tahun lalu. Jika masih hidup, ia barangkali cuma cengar-cengir melihat politik Indonesia saat ini yang penuh makian tapi miskin imajinasi dan kekurangan lelucon.

==========

Artikel ini pertama kali ditayangkan pada 7 September 2017 dalam rangka merayakan tanggal lahir Abdurrahman Wahid. Kami melakukan penyuntingan ulang dan menerbitkannya kembali untuk rubrik Mozaik.

Sabtu, 06 Juni 2020

Memaknai Perjuangan Ulama dan Santri



Oleh : Esa Arif As

Peran ulama dan santri dalam memperjuangkan kemerdekaan dan menabuh genderang jihad melawan penjajahan, tentu tidak bisa dilupakan. Bahkan dalam sejarahnya keberadaan ulama, santri di pesantren-pesantren yang ada di seluruh penjuru negeri digambarkan sebagai tembok baja bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Tidak hanya itu, dari pesantren-pesantren itulah muncul perlawanan-perlawanan, lahir pejuang pemberani yang rela mati demi negaranya. Bahkan tak terhitung berapa juta santri yang menghibahkan nyawanya untuk mempertahankan negaranya, baik prakemerdekaan maupun pascakemerdekaan.

Tak terhitung jumlah tokoh muslim nusantara ini gugur sebagai syuhada, untuk mengenang jasa para pejuang ini pemerintah Republik Indonesia memberikan gelar pahlawan kepada mereka meskipun tidak sedikitpun penghargaan itu diharapkan. Diantara tokoh yang mendapatkan penghargaan itu yakni pangeran Diponegoro, Tuanku Imam Bonjol, Teuku Umar, KH. Muhammad Hasyim Asy’ari, Kiai Haji Ahmad Dahlan, Bung Tomo dan masih banyak ulama dan tokoh Islam lainnya.

Resolusi Jihad

Resolusi jihad bermula saat Presiden Soekarno bertanya kepada KH Hasyim Asyari, tentang hukum dalam agama Islam membela tanah air dari ancaman penjajah. Tetapi pertanyaan tersebut tidak langsung dijawab oleh KH Hasyim Asyari, melainkan meminta masukan kepada para kiai.

Tepat pada tanggal 21-22 Oktober 1945, KH Hasyim Asyari mengumpulkan wakil-wakil dari cabang NU di seluruh Jawa dan Madura di Surabaya. Dalam pertemuan tersebut, diputuskan bahwa melawan penjajah sebagai perang suci alias jihad, atau saat ini populer dengan istilah resolusi jihad.

Resolusi Jihad itu dilatar belakangi adanya pertempuran dahsyat antara pasukan Inggris dengan arek-arek Suroboyo pada 10 November 1945. Dalam sejarahnya, sebelum membacakan pidato yang melegenda dan membakar semangat arek-arek Suroboyo, Bung Tomo terlebih dahulu menghadap Kiai Hasyim Asyari, ia meminta izin untuk membacakan pidatonya yang merupakan resolusi jihad yang sebelumnya telah disepakati oleh para ulama NU.

Seminggu setelah resolusi jihad dikumandangkan, tepatnya pada tanggal 10 November 1945, ribuan kiai dan santri bergerak ke Surabaya melawan tentara Inggris yang bersenjata canggih, tank dan ribuan jet tempur yang membuat langit kota Surabaya mendung di siang hari bahkan hujan rudal saat itu, dengan hanya bersenjatakan bambu runcing tanpa rasa takut, pasukan santri dan arek-arek Suroboyo ini melawan. Resolusi jihad itu membuat pertempuran yang berlangsung selama 3 minggu itu dimenangkan oleh Santri, tetapi jutaan santri wafat dalam pertempuran itu.

Sejarah perjuangan ulama dan santri dalam melawan penjajahan belanda tidak hanya dalam peristiwa itu, tetapi jutaan kisah mewarnai perjalanan bangsa besar ini.

Penetapan hari santri nasional (HSN) pada 22 Oktober karena pada tanggal 22 Oktober 1945 ini merupakan dicetuskannya resolusi jihad. Hal ini juga sebagai bentuk penghargaan dan mengenang perjuangan para santri, sekalipun tak ada satupun yang tahu, apakah para santri yang gugur dalam jihad melwan penjajah menginginkan penetapan tersebut. Setidaknya, diharapkan santri bisa mentransformasikan nilai-nilai perjuangan para syuhada, dan santri di seluruh penjuru tanah air bisa mengisi kemerdekaan, bukan hanya sebatas perayaan, kirab santri dan simbol-simbol serta euforia. Jauh melampaui itu, santri harus memahami perjuangan para syuhada secara substantif bukan hanya sebatas perayaan-perayaan secara simbolis, sebab perjuangan dibalik penetapan Hari Santri Nasional tidak sebercanda itu. Ulama dan santri yang berjuang untuk kemerdekaan Indonesia saat itu, tulus, ikhlas, tanpa pamrih, maka sepatutnya santri berjalan lurus di garis perjuangannya.

Konten Redaksi Media Madura

Tugas ulama dan santri kedepan semakin tak mudah, ditengah perkembangan dan kemajuan teknologi, ilmu pengetahuan dan lain sebagainya. Maka santri harus mampu memainkan perannya dan menjawab tantangan zaman yang semakin kompleks. Selamat Hari Santri Nasional.

Mencari Rajanya Burung

Dikisahkan, segala burung di dunia, yang dikenal atau tidak dikenal, datang berkumpul.Mereka sama-sama memiliki satu pertanyaan, siapakah raja mereka? Di antara mereka ada yang berkata, "Rasanya tak mungkin negeri dunia ini tidak memiliki raja. Maka rasanya mustahil bila kerajaan burung-burung tanpa penguasa! Jadi, kita semua memiliki Raja, ya, Raja".

Semua burung tertegun, seperti ada keraguan yang mengawang-awang. "Keadaan semacam ini tak bisa dibiarkan terus menerus. Hidup kita ini akan percuma bila sepanjang hayat kita, kita tidak pernah mengetahui, dan mengenal siapa Raja kita sesungguhnya". Masing-masing dari mereka masih terdiam, Lalu kembali ada yang berteriak lalu apa yang harus kita lakukan?"

Musyawarah Burung 1
"Tentu saja kita harus berusaha bersama-sama mencari seorang raja untuk kita semua, karena tidak ada negeri yang memiliki tatanan yang baik, tanpa seorang raja. Mereka pun mulai berkumpul dan bersidang untuk memecahkan persoalan. 

Burung Hudhud dengan semangat dan penuh rasa percaya diri, tampil ke depan dan menempatkan diri di tengah majelis burung-burung itu. Di dadanya tampak perhiasan yang melambangkan bahwa dia telah memiliki pancaran ruhaniah yang tinggi. Dan jambul di kepalanya tegak berdiri mahkota yang melambangkan keagungan dan
kebenaran, dan dia juga memiliki pengetahuan luas tentang baik dan buruk. Burung-burung sekalian, kata Hudhud, kita mempunyai raja sejati, ia tinggal jauh di balik gunung-gunung Qaf. Ribuan daratan dan lautan terbentang sepanjang perjalanan menuju tempatnyan Namanya Simurgh. Aku kenal itu dengan baik, tapi aku tak bisa terbang sendiri menemuinya. Bebaskan dirimu dari rasa malu, sombong, dan ingkar. Dia pasti akan melimpahkan cahaya bagi mereka yang sanggup melepaskan belenggu diri. Mereka yang demikian akan bebas dari baik dan buruk, karena berada di jalan kekasih-Nya. Sesungguhnya Dia dekat dengan kita, tapi kita jauh dari-Nya.

Musyawarah Burung 2,
Dikisahkan, pada suatu malam sang Maharaja Simurgh terbang di kegelapan malam. Tiba-tiba jatuhlah sehelai bulunya yang membuat geger seluruh penduduk bumi. Begitu mempesonanya
bulu Simurg hingga membuat tercengang dan terheran-heran. Semua penduduk gegap gempita ingin menyaksikan keindahan dan
keelokannya. Dan dikatakan kepada mereka, "Andai kata sehelai bulu tersebut tidak jatuh, niscaya tidak akan ada makhluk yang bernama burung di muka bumi ini" Kemudian burung Hudhud melanjutkan pembicaraannya, bahwa untuk menggap istana Simurg mereka harus bersatu, bekerja sama dan tidak boleh saling mendahului. Setelah mendengar cerita yang disampaikan oleh burung Hudhud, semua burung-burung bersemangat ingin sekali secepatnya pergi menghadap sang Maharaja
Simurg. Namun, burung Hudhud
menambahkan, bahwa perjalanan menuju istana Simurg tidak semudah yang dibayangkan, melainkan harus melewati ribuan rintangan dan guncangan dahsyat. Perjalanan juga sarat dengan penderitaan, kepedihan dan kesengsaraan. "Apakah kalian sudah siap ?" kata burung, Hudhud menguji keseriusan mereka. Setelah mereka mendengarkan penjelasan bagaimana suka dukanya, pahit getirnya perjalanan menuju istana Simurg, ternyata semangat sebagian burung menjadi pudar dan turun.

musyawarah Burung 3
Namun, di antara burung-burung, ada seekor burung Kenari yang memberanikan diri menyampaikan pendapatnya, "Aku adalah Imamul Asyiqin, imamnya orang-orang
asyik dan rindu. Aku sangat keberatan untuk ikut berangkat, bagaimana nanti orang-orang rindu dengan kemerduan kicauanku bila akuharus meninggalkan mereka. Bagaimana mungkin aku dapat berpisah dari kembang-
kembang mekarku ?" demikian alasan burung Kenari.
Selanjutnya, burung Merak berkata, “Dulu aku hidup di syurga bersama Adam, lantas aku diusir dari syurga, rasanya aku ingin kembali ke tempat tinggalku lagi. Karena itu,
aku tidak mau ikut dalam rombongan." Kemudian disusul oleh Itik, “Aku sudah biasa hidup dalam kesucian, dan aku juga terbiasa berenang di tempat yang kering kerontang. Aku tidak mungkin hidup tanpa air,” kilah Itik. Begitu juga burung Garuda, "Saya sudah
biasa hidup senang di gunung, bagaimana mungkin aku sanggup meninggalkan tempatku yang menyenangkan”, alasan Garuda.
Kemudian disusul burung Gelatik, "Aku hanya seekor burung kecil, dan lemah, takkan mungkin sanggup ikut mengembara sejauh itu," kata burung Gelatik. Lantas burung Elang ikut menyahut, “Semua orang sudah tahu kedudukanku yang tinggi ini, maka tidak mungkin aku meninggalkan tempat dan kedudukan yang mulia ini," kata burung Elang.
Burung Hudhud sebagai pemimpin sangat bijak dan sabar mendengar semua keluhan dan alasan burung-burung yang enggan berangkat. Namun demikian, burung Hudhud tetap bersemangat memberikan dorongan dan motivasi kepada mereka. "Kenapa kalian harus berberlindung di balik dalil-dalil nafsumu, sehingga semangatmu yang sudah membara menjadi padam? Padahal kalian tahu bahwa perjalanan menuju istana Simurgh adalah perjalanan suci, kenapa harus takut dan bimbang dengan prasangka yang ada pada dirimu?" ucap Hudhud. Kemudian ada seekor burung menyela, "Dengan cara apa kita bisa sampai ke tempat Maharaja Simurgh yang jauh dan sulit itu? “Dengan bekal himmah (semangat) yang tinggi, kemauan yang kuat, dan tabah menghadapi segala cobaan dan rintangan.
Bagi orang yang rindu, seperti apapun cobaan akan dihadapi, dan seberapa pun rintangan akan dilewati. Perlu diketahui bahwa Maharaja Simurg sudah jelas dan dekat, laksana matahari dengan cahayanya," jawab Hudhud meyakinkan. Sabarlah, bertawakkallah, karena bila kalian telah sanggup menempuh perjalanan itu, kalian akan tetap berada dalam jalan yang benar,
demikian lanjut Hudhud.
Setelah itu, bangkitlah semangat burung-buruna seolah-olah baru saia mendapatkan kekuatan baru untuk terus melangkah menuju
istana Simurg. Akhirnya, burung-burung yang berjumlah ribuan sepakat untuk berangkat bersama-sama tanpa satupun yang tertinggal. Perjalanan panjang telah dimulai, perbekalan telah disiapkan. Burung Hudhud yang didaulat menjadi pemimpin mereka telah mengatur persiapan, dengan membagi rombongan menjadi beberapa kelompok. Setelah
perjalanan cukup lama menembus lorong-lorong waktu, kegelisahan mulai datang menimpa mereka. “Mengapa perjalanan sudah lama dan jauh, kok tidak sampai-sampai?" guman mereka di dalam hati. Mulailah mereka dihinggapi rasa malas karena menganggap
perjalanan terlalu lama, mereka bosan karena tidak lekas sampai. Perasaan mereka diliputi keraguan dan kebimbangan. Kemudian sebagian burung ada yang memutuskan untuk
tidak melanjutkan perjalanan.
Namun burung-burung lain yang masih memiliki stamina kuat dan himmah yang tinggi tidak menghiraukan penderitaan yang mereka alami, dan melanjutkan perjalanan yang maha panjang itu.
Tiba-tiba rintangan datang kembali, terpaan angin yang sangat kencang menerpa mereka sehingga membuat bulu-bulu indah yang  dibangga-bangakan Kegagahan burung-burung perkasa pun mulai pudar. Kedudukan
dan pangkat yang tinggi sudah tidak
terpikirkan. Berbagai macam penyakit menyerang mereka, kian lengkaplah penderitaan yang dirasakan oleh para burung tersebut. Badan mereka kurus kering, penyakit datang silih berganti membuat mereka makin tidak berdaya. Semua atribut duniawi yang dulu disandang dan dibanggakan, sekarang tanggal tanpa sisa, yang ada hanyalah totalitas kepasrahan dalam ketidak berdayaan. Mereka hanyut dalam samudera iradatullah dan tenggelam dalam gelombang fana'.
Pada akhirnya Cuma sedikit dari mereka yang benar-benar sampai ke tempat yang teramat mulia dimana Simurg membangun mahligainya. Dari ribuan burung yang pergi, tinggal 30 ekor yang masih bertahan dan akhirnya sampai di gerbang istana Simurgh.
Namun kondisi mereka sangat
memprihatinkan, tampak gurat-gurat kelelahan di wajah mereka. Bahkan bulu-bulu yang menempel di tubuh mereka rontok tak bersisa.
Di sini terlihat, meski mereka berasal dari latar belakang berbeda, namun pada proses puncak pencapaian spiritual adalah sama, yaitu kondisi telanjang bulat dan lepas dari pakaian basyariyah.

Kemudian di depan gerbang istana mereka beristirahat sejenak sambil mengatur nafas. Tiba-tiba datang penjaga istana menghampiri
mereka, “Apa tujuan kalian susah payah datang ke istana Simurgh?" kata penjaga istana. Serentak mereka menjawab, "Saya datang  untuk menghadap  Maharaja Simurg, berilah kami kesempatan untuk bertemu dengannya.” Tanpa diduga, terdengar suara sayup-sayup menyapa mereka dari dalam istana, “Salaamun qaulam min rabbir rahiim” sembari mempersilahkan mereka masuk ke dalam. Lalu mereka masuk secara bersama-sama.
Kemudian terbukalah kelambu hijab satu demi satu yang berjumlah ribuan. Mata mereka terbelalak memandang keindahan yang amat mempesona, keindahan yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya, keindahan yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata.
Tatkala seluruh hijab tersingkap, ternyata yang dijumpai adalah wujud dirinya. Burung-burung pun saling bertanya dan terkagum-kagum. kok aku sudah ada disini?" begitu guman mereka dalam hati. Seolah-olah mereka berada di depan cermin sehingga yang ada adalah wujud dirinya. Maka datanglah suara lembut menjawabnya, "Mahligai Simurgh ibarat cermin, maka siapapun yang sampai pada mahligai ini, tidak akan melihat wujud selain wujud diri
sendiri. Perjumpaan ini di luar angan dan pikirmu, dan juga tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata, namun hanya dapat dirasakan dengan rasa. Karena itu, engkau harus keluar dari dalam dirimu sehingga engkau menjadi
sosok pribadi Insan Kamil."
Akhirnya, mereka memahami hakikat dirinya, setelah melewati tahapan fana' billah hingga mencapai puncak baqa' billah. Maka hilanglah sifat-sifat kehambaan dan kekal dalam ketuhanan.




Saatnya Bangkit Menuntut Ilmu!

Saatnya Bangkit Menuntut Ilmu!OleSSSS Ibrahim

Hidayatullah.com | Seiring berkembangnya suatu peradaban pastilah akan diikuti dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Juga sebaliknya, kemunduran suatu peradaban menandakan rubuhnya ilmu pengetahuan. Hal ini adalah niscaya jika kita membahas sejarah dari suatu peradaban.

Dewasa ini, ilmu pengetahuan berhasil menggeser agama dari kehidupan umat manusia. Serta dianggap paling penting dalam menentukan umat manusia. Peradaban Barat hari ini menunjukkan dan mampu menghegemoni bangsa-bangsa lain untuk saling mengejar menggapai ilmu pengetahuan. Pengaruh Barat ini pun diaminkan oleh masyarakat Islam. Tak jarang akhirnya pemuda-pemuda Muslim termakan hasutan dari para pemikir Barat. Kemajuan Agama. Sedangkan ilmu pengetahuan adalah simbol kemajuan.

Mulailah dipertentangkan antara agama dan ilmu pengetahuan. Marxisme menganggap bahwa “agama adalah candu.” Sementara Freudisme mengatakan “agama adalah ilusi.” Perkara agama adalah perkara masing-masing individu, tak layak dibawa-bawa ke masyarakat. Pandangan ini menjadikan agama sebagai kambinghitam yang menghambat perkembangan ilmu pengetahuan.

Pertanyaannya, apakah benar agama hanya soal melesatnya ilmu pengetahuan? Saya kira pendapat-pendapat demikian hanya berlaku di Barat dan tidak bisa dipukul rata. Sangkaan seperti itu sangat picik dan tidak ilmiah sama sekali. Anggun terlebih terhadap agama Islam.

Islam sedari dulu adalah agama yang menuntut ilmu pengetahuan. Bahkan mendorong pemeluknya untuk menuntut ilmu, jika perlu sampai ke negeri Cina. Tak ada batasannya dalam Islam dalam mencari ilmu. Karya mencari ilmu dalam Islam sudah disuruh dari sejak dalam buaian hingga ke liang lahat. Dan Islam juga menaikkan derajat orang-orang yang berilmu. Juga menjadi Khalifah Allah di bumi dibutuhkan ilmu. Melebihi firman-Nya:

ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ دَرَجَٰتٍ ۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعَمَنُ

"Allah mengangkat orang-orang beriman dari golonganmu dan juga orang-orang yang mendapat ilmu pengetahuan beberapa derajat ." (QS: Mujadalah: 11).

هَلْ يَسْتَوِى ٱلَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَٱلَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُو۟لُواََََْْْْْْْ۟

"Katakanlah, Adakah sama orang-orang yang berilmu pengetahuan dan orang-orang yang tidak berilmu pengetahuan ." (QS: Az Zumar: 9).

Imam Al Ghazali dan Ilmu Pengatahuan.

Dalam kitab Ihya Ulumuddin , Imam Al Ghazali mengatakan bahwa tubuh meminta makanan agar tidak sakit. Sementara seseorang yang sunyi dari ilmu, maka kematian bisa dinamakan sakit dan kematiannya sudah bisa dipastikan.

Bahkan dalam Islam mencari ilmu itu adalah perkara yang diminta. Sebagaiman perkataan nabi Muhammad ﷺ, “mencari ilmu pengetahuan wajib bagi setiap orang Muslim.”

Nabi bers juga bersabda: “Niscayalah andaikata berangkat berangkat kemudian belajar satu bab dari ilmu pengetahuan, maka hal itu lebih baik dari pada kamu shalat seratus rakaat.”

Nyatalah seterang-terangnya karena sangkaan agama melawan laju ilmu pengetahuan itu salah dan tidak berdasar sama sekali. Sebaliknya Islam sangat menentang keras orang-orang yang membawa berita tidak benar, taklid dan fanatik. Yusuf Qardhawi dalam bukunya Ilmu Pengetahuan Dalam Perspektif Islam menyebutkan bahwa Islam menentang dengan apa pun kata yang tidak didukung oleh bukti-bukti tidak valid, menentukan beberapa faham atau memilih yang sifatnya membabi-buta dan mengecam terhadap hawa nafsu.

Hujjatul Islam Imam Al Ghazali telah berhasil menyelesaikan ilmu dalam membangun peradaban manusia. Karena Islam dibangun di atas ilmu. Dalam Ihya Ulumuddin , Imam Al Ghazali mengutip perkataan Mu'adz perihal mengutip ilmu pengetahuan. Berkatalah Mu'adz bahwasanya, “Ilmu pengetahuan adalah kawan di waktu yang ditentukan, sahabat di waktu sunyi, penunjuk jalan bagi agama, pendorong ketabahan disaat kekurangan dan kesukaran. Ilmu pengetahuan adalah pemimpin segalanya amalan dan amalan itu hanyalah sebagai pengantar belaka. Yang diilhami dan diberuniai ilmu adalah benar-benar orang yang berbahagia dan terhalang atau tidak berhak ilmu yang benar-benar celaka. ”

Daya dorong Islam untuk umat Karena tanpa ilmu akan salahlah dalam memecahkan agama ini. Tanpa ilmu banyaklah orang-orang yang akan jatuh tersesat di lembah kegelapan. Adalah sifat Islam yang membawa manusia keluar dari kegelapan menuju cahaya yang terang benderang. Dari kebodohan menuju kepandaian. Dan semua hanya dapat diperoleh kecuali dengan pengetahuan.

Ibnu Khaldun

Ibnu Khaldun (w. 808 H / 1406 M), salah seorang ilmuwan Islam yang menganggap sangat cerdas dan termasuk yang paling populer oleh dunia intelektual modern juga memberikan perhatian terhadap bangunan ilmu pengetahuan di dalam Islam. Ibnu Khaldun yang hidup disaat mulai hancur peradaban Islam dan bersentuhan langsung dengan kembali bangkit bangsa Barat memberikan gambaran yang jelas bagaimana ilmu pengetahuan menentukan masa depan sebuah peradaban.

Menurut Ibnu Khaldun dalam karangannya Muqaddimah , kemunduran dan kehancuran yang diderita oleh peradaban Islam diikuti dengan berkurangnya keahlian dan bahkan lenyap sama sekali. Maksud Ibnu Khaldun yang lenyap sama sekali adalah pengetahuan ilmiah.

Hal ini didukung bukti sejarah yang Ibnu Khaldun saksikan sendiri. "Qairuwan dan Cordova" kata Ibnu Khaldun "merupakan simbol yang memenuhi peradaban Maghrib dan Andalusia." Selanjutnya Ibnu Khaldun mengatakan, "peradaban kedua wilayah itu telah mencapai kemajuan pesat, di mana dalam kedua wilayah tersebut berbagai ilmu pengetahuan dan pengembangan keterampilan meningkat pesat untuk mempertahankan masa kejayaan dan peradabannya."

Namun, kompilasi itu berhenti, kedua wilayah itu memperbaiki kemunduran. Menurut Ibnu Khaldun lagi, “kompilasi bangunan peradaban bertambah kemunduran dan kemakmuran penduduknya menyusut, maka bentangan peradaban itu pun menggulung total yang diiringi dengan ilmu pengetahuan dan dukungan, yang lalu pindah ke negeri-negeri lain.”

Setelah Andalusia runtuh, ilmu pengetahuan dan peradaban sekaligus berpindah ke wilayah lain. Tercatat dalam sejarah, Baghdad, Basrah, dan Kufah pernah menjadi wilayah-wilayah yang merupakan tambang ilmu pengetahuan. Namun akibat agresi bangsa Mongol dan kelengahan kaum Muslimin, peradaban itu hancur tak tersisa. Dan segalanya mulai berpindah, Turki menjadi tempat bersemai kembalinya ilmu pengetahuan. 

Melihat dari kacamata sejarah kita bisa melihat bagaimana ilmu pengetahuan begitu serasi dengan agama. Ilmu pengetahuan memiliki peranan penting dalam menjelaskan perlunya agama bagi kehidupan masyarakat. Sedangkan agama menuntun ilmu pengetahuan supaya tidak menyeleweng dari garis demarkasi yang telah ditetapkan Allah. Hubungan harmonis ini selalu dijaga oleh Islam.

Kita cukup setuju dengan ucapan Einstein yang mengatakan bahwa ilmu tanpa agama buta, agama tanpa ilmu sesat.  Al Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin mengutip perkataan Al Hasan rahimahullah berkata: Andaikata tidak ada para alim ulama, pastilah manusia seluruhnya akan menjadi sebagai binatang. Maksud dari perkataan ini menurut Al Ghazali ialah dengan sebab adanya pelajaran yang mereka berikan itu, lalu seluruh manusia dapat keluar dari batas pengertian kebinatangan dan memasuk batas kemanusiaan.

Saya kira kalau kita ingin maju dan bangkit kembali jangankankan Barat harus membabi buta. Segera alihkan kembali untuk mendalami kembali hakikat agama ini diturunkan. Lalu maju dengan membawa agama di sanubari bersamaan dengan ilmu pengetahuan yang baik. Membuat kita tidak lagi inferior dan rendah diri di hadapan kaum musyrik. Janganlah mau kita tundukkan kepala ini selain ditundukkan kepada Allah pencipta segala semesta, Yang Maha Digdaya terhadap segala sesuatu.

Maka sambutlah seruan ini wahai pemuda-pemuda Muslim! *


Perwakilan: Insan Kamil

Editor:

Nikmatnya menjadi penuntut ilmu

“ Jika kalian berjalan dan bertemu dengan taman-taman surga, maka berhentilah. Yaitu majelis-majelis ilmu. Sesungguhnya di sisi Allah ada ma...