Sabtu, 06 Juni 2020

Saatnya Bangkit Menuntut Ilmu!

Saatnya Bangkit Menuntut Ilmu!OleSSSS Ibrahim

Hidayatullah.com | Seiring berkembangnya suatu peradaban pastilah akan diikuti dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Juga sebaliknya, kemunduran suatu peradaban menandakan rubuhnya ilmu pengetahuan. Hal ini adalah niscaya jika kita membahas sejarah dari suatu peradaban.

Dewasa ini, ilmu pengetahuan berhasil menggeser agama dari kehidupan umat manusia. Serta dianggap paling penting dalam menentukan umat manusia. Peradaban Barat hari ini menunjukkan dan mampu menghegemoni bangsa-bangsa lain untuk saling mengejar menggapai ilmu pengetahuan. Pengaruh Barat ini pun diaminkan oleh masyarakat Islam. Tak jarang akhirnya pemuda-pemuda Muslim termakan hasutan dari para pemikir Barat. Kemajuan Agama. Sedangkan ilmu pengetahuan adalah simbol kemajuan.

Mulailah dipertentangkan antara agama dan ilmu pengetahuan. Marxisme menganggap bahwa “agama adalah candu.” Sementara Freudisme mengatakan “agama adalah ilusi.” Perkara agama adalah perkara masing-masing individu, tak layak dibawa-bawa ke masyarakat. Pandangan ini menjadikan agama sebagai kambinghitam yang menghambat perkembangan ilmu pengetahuan.

Pertanyaannya, apakah benar agama hanya soal melesatnya ilmu pengetahuan? Saya kira pendapat-pendapat demikian hanya berlaku di Barat dan tidak bisa dipukul rata. Sangkaan seperti itu sangat picik dan tidak ilmiah sama sekali. Anggun terlebih terhadap agama Islam.

Islam sedari dulu adalah agama yang menuntut ilmu pengetahuan. Bahkan mendorong pemeluknya untuk menuntut ilmu, jika perlu sampai ke negeri Cina. Tak ada batasannya dalam Islam dalam mencari ilmu. Karya mencari ilmu dalam Islam sudah disuruh dari sejak dalam buaian hingga ke liang lahat. Dan Islam juga menaikkan derajat orang-orang yang berilmu. Juga menjadi Khalifah Allah di bumi dibutuhkan ilmu. Melebihi firman-Nya:

ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ دَرَجَٰتٍ ۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعَمَنُ

"Allah mengangkat orang-orang beriman dari golonganmu dan juga orang-orang yang mendapat ilmu pengetahuan beberapa derajat ." (QS: Mujadalah: 11).

هَلْ يَسْتَوِى ٱلَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَٱلَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُو۟لُواََََْْْْْْْ۟

"Katakanlah, Adakah sama orang-orang yang berilmu pengetahuan dan orang-orang yang tidak berilmu pengetahuan ." (QS: Az Zumar: 9).

Imam Al Ghazali dan Ilmu Pengatahuan.

Dalam kitab Ihya Ulumuddin , Imam Al Ghazali mengatakan bahwa tubuh meminta makanan agar tidak sakit. Sementara seseorang yang sunyi dari ilmu, maka kematian bisa dinamakan sakit dan kematiannya sudah bisa dipastikan.

Bahkan dalam Islam mencari ilmu itu adalah perkara yang diminta. Sebagaiman perkataan nabi Muhammad ﷺ, “mencari ilmu pengetahuan wajib bagi setiap orang Muslim.”

Nabi bers juga bersabda: “Niscayalah andaikata berangkat berangkat kemudian belajar satu bab dari ilmu pengetahuan, maka hal itu lebih baik dari pada kamu shalat seratus rakaat.”

Nyatalah seterang-terangnya karena sangkaan agama melawan laju ilmu pengetahuan itu salah dan tidak berdasar sama sekali. Sebaliknya Islam sangat menentang keras orang-orang yang membawa berita tidak benar, taklid dan fanatik. Yusuf Qardhawi dalam bukunya Ilmu Pengetahuan Dalam Perspektif Islam menyebutkan bahwa Islam menentang dengan apa pun kata yang tidak didukung oleh bukti-bukti tidak valid, menentukan beberapa faham atau memilih yang sifatnya membabi-buta dan mengecam terhadap hawa nafsu.

Hujjatul Islam Imam Al Ghazali telah berhasil menyelesaikan ilmu dalam membangun peradaban manusia. Karena Islam dibangun di atas ilmu. Dalam Ihya Ulumuddin , Imam Al Ghazali mengutip perkataan Mu'adz perihal mengutip ilmu pengetahuan. Berkatalah Mu'adz bahwasanya, “Ilmu pengetahuan adalah kawan di waktu yang ditentukan, sahabat di waktu sunyi, penunjuk jalan bagi agama, pendorong ketabahan disaat kekurangan dan kesukaran. Ilmu pengetahuan adalah pemimpin segalanya amalan dan amalan itu hanyalah sebagai pengantar belaka. Yang diilhami dan diberuniai ilmu adalah benar-benar orang yang berbahagia dan terhalang atau tidak berhak ilmu yang benar-benar celaka. ”

Daya dorong Islam untuk umat Karena tanpa ilmu akan salahlah dalam memecahkan agama ini. Tanpa ilmu banyaklah orang-orang yang akan jatuh tersesat di lembah kegelapan. Adalah sifat Islam yang membawa manusia keluar dari kegelapan menuju cahaya yang terang benderang. Dari kebodohan menuju kepandaian. Dan semua hanya dapat diperoleh kecuali dengan pengetahuan.

Ibnu Khaldun

Ibnu Khaldun (w. 808 H / 1406 M), salah seorang ilmuwan Islam yang menganggap sangat cerdas dan termasuk yang paling populer oleh dunia intelektual modern juga memberikan perhatian terhadap bangunan ilmu pengetahuan di dalam Islam. Ibnu Khaldun yang hidup disaat mulai hancur peradaban Islam dan bersentuhan langsung dengan kembali bangkit bangsa Barat memberikan gambaran yang jelas bagaimana ilmu pengetahuan menentukan masa depan sebuah peradaban.

Menurut Ibnu Khaldun dalam karangannya Muqaddimah , kemunduran dan kehancuran yang diderita oleh peradaban Islam diikuti dengan berkurangnya keahlian dan bahkan lenyap sama sekali. Maksud Ibnu Khaldun yang lenyap sama sekali adalah pengetahuan ilmiah.

Hal ini didukung bukti sejarah yang Ibnu Khaldun saksikan sendiri. "Qairuwan dan Cordova" kata Ibnu Khaldun "merupakan simbol yang memenuhi peradaban Maghrib dan Andalusia." Selanjutnya Ibnu Khaldun mengatakan, "peradaban kedua wilayah itu telah mencapai kemajuan pesat, di mana dalam kedua wilayah tersebut berbagai ilmu pengetahuan dan pengembangan keterampilan meningkat pesat untuk mempertahankan masa kejayaan dan peradabannya."

Namun, kompilasi itu berhenti, kedua wilayah itu memperbaiki kemunduran. Menurut Ibnu Khaldun lagi, “kompilasi bangunan peradaban bertambah kemunduran dan kemakmuran penduduknya menyusut, maka bentangan peradaban itu pun menggulung total yang diiringi dengan ilmu pengetahuan dan dukungan, yang lalu pindah ke negeri-negeri lain.”

Setelah Andalusia runtuh, ilmu pengetahuan dan peradaban sekaligus berpindah ke wilayah lain. Tercatat dalam sejarah, Baghdad, Basrah, dan Kufah pernah menjadi wilayah-wilayah yang merupakan tambang ilmu pengetahuan. Namun akibat agresi bangsa Mongol dan kelengahan kaum Muslimin, peradaban itu hancur tak tersisa. Dan segalanya mulai berpindah, Turki menjadi tempat bersemai kembalinya ilmu pengetahuan. 

Melihat dari kacamata sejarah kita bisa melihat bagaimana ilmu pengetahuan begitu serasi dengan agama. Ilmu pengetahuan memiliki peranan penting dalam menjelaskan perlunya agama bagi kehidupan masyarakat. Sedangkan agama menuntun ilmu pengetahuan supaya tidak menyeleweng dari garis demarkasi yang telah ditetapkan Allah. Hubungan harmonis ini selalu dijaga oleh Islam.

Kita cukup setuju dengan ucapan Einstein yang mengatakan bahwa ilmu tanpa agama buta, agama tanpa ilmu sesat.  Al Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin mengutip perkataan Al Hasan rahimahullah berkata: Andaikata tidak ada para alim ulama, pastilah manusia seluruhnya akan menjadi sebagai binatang. Maksud dari perkataan ini menurut Al Ghazali ialah dengan sebab adanya pelajaran yang mereka berikan itu, lalu seluruh manusia dapat keluar dari batas pengertian kebinatangan dan memasuk batas kemanusiaan.

Saya kira kalau kita ingin maju dan bangkit kembali jangankankan Barat harus membabi buta. Segera alihkan kembali untuk mendalami kembali hakikat agama ini diturunkan. Lalu maju dengan membawa agama di sanubari bersamaan dengan ilmu pengetahuan yang baik. Membuat kita tidak lagi inferior dan rendah diri di hadapan kaum musyrik. Janganlah mau kita tundukkan kepala ini selain ditundukkan kepada Allah pencipta segala semesta, Yang Maha Digdaya terhadap segala sesuatu.

Maka sambutlah seruan ini wahai pemuda-pemuda Muslim! *


Perwakilan: Insan Kamil

Editor:

Nikmatnya menjadi penuntut ilmu

“ Jika kalian berjalan dan bertemu dengan taman-taman surga, maka berhentilah. Yaitu majelis-majelis ilmu. Sesungguhnya di sisi Allah ada ma...