Selasa, 23 Februari 2021

Nikmatnya menjadi penuntut ilmu



“ Jika kalian berjalan dan bertemu dengan taman-taman surga, maka berhentilah. Yaitu majelis-majelis ilmu. Sesungguhnya di sisi Allah ada malaikat-malaikat yang selalu mencari majelis-majelis ilmu. Jika mereka menemukannya, mereka duduk mengelilingi para penuntut ilmu dan mendoakannya. “(HR. Tirmidzi)
  1. Mendapatkan rahmat dan ketentraman, serta disebut namanya dihadapan penduduk langit. “ Tidaklah suatu kaum duduk untuk berdzikir kepada Allah kecuali malaikat akan mengayomi mereka, rahmat Allah meliputi mereka, ketentraman turun kepada mereka dan Allah menyebut mereka di hadapan makhluk yang berada di sisi-Nya.” (HR. Muslim)
  2. Sukses dalam menjalani kehidupan dunia dan akhirat. “Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia maka wajib baginya memiliki ilmu dan barangsiapa menghendaki kehidupan akhirat maka wajib baginya memiliki ilmu. Dan barangsiapa menghendaki keduanya maka wajib baginya memiliki ilmu.” (HR. Tirmidzi)
  3. Mendapat kebaikan dari Allah. “ Barangsiapa dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka ia akan diberikan kepahaman dalam ilmu agama.” (Muttafaq alaih)
  4. Mengalirkan pahala meskipun sudah meninggal dunia. Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda “ Apabila manusia meninggal dunia, terputus amalnya kecuali 3 hal; sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak sholih yang mendoakan.”
  5. Istiqomah dalam ketaatan. “Wahai pembawa ilmu, beramallah dengan ilmu itu, barangsiapa yang sesuai antara ilmu dengan amalnya maka mereka akan selalu istiqomah dalam ketaatan.”( HR. Ad Darimi)
  6. Dimudahkan jalan menuju surga. “Barangsiapa menempuh jalan untuk untuk menuntut ilmu niscaya Allah akan memudahkan baginya menuju surga.” (HR. Bukhori & Muslim)
Maka, ketika kita merasa kelelahan dalam perjuangan menuntut ilmu ini, mari kita kuatkan kembali keimanan kita. Mari kita kuatkan kesabaran kita, bersabar dengan ujian dalam menuntut ilmu, bersabar dalam ujian-ujian kehidupan dunia, yang sebenarnya hanya sebentar saja. Ya, kita di dunia ini hanyalah seperti sekian menit saja dibandingkan lamanya masa di akhirat. “ Barangsiapa bersabar dengan kesusahan yang sebentar saja maka ia akan menikmati kesenangan yang panjang” (Thariq bin Ziyad)
Mari kita kobarkan semangat kita untuk meraih derajat tinggi dan mulia di sisi-Nya. Sesungguhnya cita-cita kita tidak terhenti pada kebahagiaan dunia, melainkan akhirat. Seperti cita-cita Urwah bin Zubair, “ Cita-citaku adalah zuhud di dunia dan sukses di akhirat. Aku hanya ingin menjadi orang yang ikut andil dalam menyebarkan ilmu-ilmu keislaman.” MasyaaAllah, begitu semangatnya generasi terdahulu dalam belajar dan mengajarkan ilmu. Rasulullah SAW juga telah mendidik kita untuk menjadi orang yang selalu bersemangat.
 “ Bersemangatlah kalian kepada apa yang bermanfaat bagi kalian, mintalah pertolongan Allah dan jangan malas.” (HR. Bukhori & Muslim). Mari kita panjatkan do’a yang diajarkan Rasulullah SAW, “ Ya Allah, aku sungguh-sungguh memohon kepadamu ketegaran dalam urusan agama ini dan tekad kuat berada di atas petunjuk-Mu” .  Juga do’a dalam firman-Nya, QS. Thaha: 114, “ Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu.”
 Kita renungkan kembali nasehat Imam Asy Syafi’i,“ Barangsiapa belum merasakanpahitnya belajar walau sebentar, Ia akan merasakan hinanya kebodohan sepanjang hidupnya. Dan barangsiapa ketinggalan belajar di masa mudanya, maka bertakbirlah untuknya empat kali karena kematiannya.Demi Allah, hakekat seorang pemuda adalah dengan ilmu dan takwa.
Wahai para penuntut ilmu, calon generasi peradaban Islam, Hendaklah ilmu yang kita miliki menjadikan kita semakin takut untuk bermaksiat dan semakin semangat dalam taat kepada Allah. Menjadikan kita terus berjuang untuk mewujudkan kegemilangan Islam. Bersemangatlah, berlelah-lelahlah, karena lelahmu akan memuliakanmu..
 
Ya Allah Bimbing Kami..

Filosofi Lambang Dalam Kehidupan

Diambil dari berbagai sumber

Agama dan desain adalah dua hal yang berbeda, namun dalam konteks penciptaan karya visual kedua dimensi ini selalu berhubungan, terbukti dengan adanya karya-karya agama yang diwujudkan dalam bentuk visual seperti masjid, kaligrafi, lambang (simbol) dan ornamen. Salah satu contohnya adalah simbol Bintang Delapan yang merupakan pengejawantahan keilmuan desain (seni) dengan mengintegerasikan kebudayaan Islam di dalamnya. Rancangan bintang delapan penjuru terinspirasi dari denah Kubah Shakhrah (harfiah, Kubah Batu) yang dibangun oleh Khalifah Abdul Malik bin Marwan pada tahun 685 M dan juga lambang standar rub al-hizb.

1. Lingkaran
     Hidup kita adalah sebuah perjalanan, sederhana kita bisa menggambarkan kehidupan ini seperti pada proses kita menggambarkan sebuah garis lengkung yang kita sebut lingkaran. Kalau kita menggambar lingkaran, cobalah kita mulai dari satu titik awal lalu tarik pena anda melingkar menuju titik tersebut. Jika titik awal adalah sebuah kelahiran, maka titik akhir pada tempat yang sama adalah akhir dari kehidupan itu sendiri. Lalu pertanyaannya, apa yang digambarkan dari pesan atau kebijaksanaan apa yang digambarkan dari simulasi garis lingkaran tersebut ...?
Mari kita uraikan satu-persatu:

1. Lingkaran dimulai dan berakhir pada titik yang sama.
  Di dalam hidup ini, pada kenyataannya, bahwa sebenarnya hidup itu lebih dari sekedar hidup, kita menjalani hidup ini atas rahmat dan karunia-Nya. Hanya karena-Nya kita diciptakan dan hanya kepada-Nya kita kembali. Kita hanya lah hidup layaknya garis lengkung yang panjang pada sebuah lingkaran, entah itu lingkaran yang besar atau lingkaran yang kecil, pada akhirnya kita akan menemukan sebuah titik, titik awal mula tempat kita menyelesaikan gambar lingkaran itu. Mungkin bisa saja menjadi lingkaran yang sempurna jika kita memiliki jarak yang sama dengan titik pusat pada setiap titik dalam gambar lingkaran itu, atau mungkin menjadi sebuah lingkaran yang kurang, bahkan tidak bisa sempurna.

2. Dia berputar mengikuti setiap gerakan yang kita inginkan.
         Dalam menggambar lingkaran kita bisa memutarnya ke kiri atau ke kanan, ke atas atau ke bawah, mengikuti arah jarum atau berlawanan arah jarum jam, semua itu tergantung kita mengarahkannya. Sama halnya dengan hidup yang kita jalani   ini. Kita bisa menjadi orang yang baik atau yang jahat, kita bisa menjadi orang yang rajin atau yang pemalas, kita bisa menjadi orang yang pandai atau menjadi orang yang bodoh, juga kita bisa menjadi orang yang taat agama atau tidak, itu semua kita yang menentukan hidup ini, kita semua yang mengarahkannya dan kita juga yang akan menjalani hidup ini. Jadi, dalam hidup ini, apa yang kita tanam  itu lah yang akan kita panen, apa yang kita lakukan sekarang, hasil yang akan kita dapatkan dihari kelak nanti.

3. Yang namanya membuat sebuah lingkaran, harus benar-benar melingkara, agar membentuk lingkaran yang dimaksud.
         Dalam membuat lingkaran, kita harus memperhatikan jarak setiap titik yang ada di busurnya. Sebuah lingkaran yang sempurna, adalah garis melingkar dimana pada setiap titik pada busurnya memiliki jarak yang sama terhadap titik pusat lingkaran. Itulah ketentuan yang menyebabkan sebuah garis melingkar disebut lingkaran.
Sama halnya akan hidup didunia ini, kita menjalani hidup sesuai ketentuan yang ada dari Tuhan Yang Maha Esa. Menjalani hidup ini dengan segala ketentuan yang ada, yang telah diciptakan sehingga hidup yang kita jalani ini mengarah kepada sebuah mimpi dalam kehidupan yang harus kita ikuti segala peraturan dan ketentuannya, maka kita akan memiliki kehidupan yang baik di dunia dan di akhirat kelak.
4. Menjauh-mendekat, menggambarkan hukum sebab akibat.
        Mungkin sebuah kalimat yang tepat untuk menggambarkan proses pembuatan lingkaran. Kita menggambar lingkaran dengan menjauhi titik awal kita memulai yang pada akhirnya kita hanya mengakhiri titik itu lagi.
Sesungguhnya tiap gerak kita merupakan tindakan kita melakukan sebab, yang selanjutnya pasti akan menghasilkan. Maka jika kita melakukan sebab yang baik sudah tentu akibatnya juga akan baik. Karena semua itu adalah hukum dan ketentuan yang ada dalam kehidupan ini. Siapa yang menabur angin, dia yang akan menuai badai.
5. Lingkaran setiap manusia berbeda-beda.
Besar kecilnya lingkaran yang manusia buat itu berbeda-beda. Sama seperti hidup yang dijalani oleh manusia itu sendiri. Sebuah pertanyaan yang membuat kita mawas diri adalah: "Lingkaran kita sudah seperti apa? Apakah baru seperempat lingkaran atau setengah lingkaran atau bahkan sudah berakhir titik akhir lingkaran ..?" Pembuatan lingkaran pasti mempunyai titik poros dan sistem yang kita beri nama "Prinsip dalam hidup".
Lingkaran harus secara konsisten terhadap titik tersebut atau titik itu harus satu. Titik tersebut haruslah berada di dalam lingkaran, titik yang kita jadikan sebagai pusat kita menggambarnya sebagai ukuran jarak pada setiap titiknya dalam membuat sebuah lingkaran yang sempurna.

2. Filosofi 8 sudut / Arah
Dalam memanage waktu, Islam mengajarkan adanya skala prioritas (fiqh al-awlawiyyah). Misalnya, harus mendahulukan kewajiban daripada yang sunnat. Dalam waktu yang sempit, misalnya, sebaiknya tidak mengerjakan pekerjaan sunat yang menyebabkan habisnya waktu untuk mengerjakan yang wajib. Kata kunci dalam memanage segalanya, tidak hanya soal ibadah, mungkin juga kuliah atau pekerjaan adalah “prioritas” (awlawiyyah). Jika studi/ kuliah merupakan prioritas pertama, maka waktu harus diberikan sebagian besarnya untuk studi/ kuliah pula, sehingga kegiatan-kegiatan lain yang sifat sekunder berada di bawahnya dalam skala prioritas. Mungkin banyak orang yang sudah berujar bahwa keberhasilan bukanlah semata persoalan kecerdasan, sekalipun itu sangat menentukan, melainkan juha persoalan memanage waktu.
Dalam memanage waktu, menarik sekali bahwa ternyata Nabi mengajar pembagian waktu selama 24 jam menjadi 1/3 (8 jam), yaitu 1/3 untuk kerja, 1/3 untuk beribadah, dan 1/3 untuk istirahat. Pertama, 8 jam kerja (katakanlah: masuk kerja jam 8, pulang jam 4 sore) adalah waktu yang ideal dan sebanding dengan kekuatan tenaga manusia dan proporsional dikaitkan dengan hak waktu untuk kegiatan lain. Kedua, istirahat dalam pengertian di atas (tidak melulu tidur) selama 8 jam juga pembagian waktu yang ideal (katakanlah: tidur jam 21.00 [9 malam], bangun jam 05.00 [subuh]). Ketiga, beribadah selama 8 jam adalah proporsi ideal yang selama ini kurang kita perhatikan. Memang, harus dicatat bahwa pembagian ini tidak ketat, dan begitu juga setiap kegiatan tidak monoton, seperti ketika kerja bisa diselingi dengan istirahat dan shalat. Di samping itu, dalam Islam, memang kerja juga dipandang sebagai ibadah selama didasarkan atas niat ibadah, bukan semata mengejar kebutuhan materi. Tapi, memang proporsi waktu untuk ibadah selama ini terasa kurang, padahal kalau kita memperhatikan dengan seksama pernyataan ayat berikut tampak bahwa proporsi antara aktivitas duniawi bukanlah fifty-fifty (50%:50%), melainkan untuk akherat lebih banyak dibandingkan untuk dunia: “dan carilah pada apa yang dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagian) negeri akherat, dan janganlah kamu lupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi…” (Q.S. al-Qashash (28): 77).

Tiap Muslim pasti mendambakan bisa masuk surganya Allah SWT. Namun, tidak mudah bagi manusia untuk meraih kenikmatan itu karena banyak rintangannya. Karena itu, dibutuhkan niat dan perbuatan yang tulus dengan menjalankan seluruh perintah Allah dan menjauhi semua larangan-larangannya.
Dalam sebuah hadits Nabi Muhammad SAW dikatakan mengenai gambaran surga sebagai berikut ini:
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, “Allah Ta’ala berfirman: Aku sediakan bagi hamba-Ku yang shalih berbagai kenikmatan yang tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga dan tidak pernah terbetik dalam benak manusia. Kalau kalian mau, bacalah, ‘Tak seorang pun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan.’ (QS. As-Sajdah: 17)

Berikut ini delapan nama-nama surga dan calon-calon penghuninya dikutip dari Pustaka Ilmu Sunni-Salafiyah (PISS-KTB):

1. Surga Firdaus

Surga Firdaus diciptakan oleh Allah swt dari emas.
Tentang calon penghuninya dijelaskan dalam surat Al Mu’minun ayat 1-11, yang artinya sebagai berikut:
“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman. (Yaitu) orang-orang yang khusyu dalam shalatnya. Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna. Dan orang-orang yang menunaikan zakat. Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya. Kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya. Dan orang-orang yang memelihara sholatnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi. (Yakni) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya.” (QS. Surat Al Mu'minun:1-11)
2. Surga ‘Adn
Surga ‘Adn diciptakan oleh Allah swt dari intan putih. Calon penghuni Surga ‘Adn antara lain orang yang beriman dan bertakwa kepada Allah dan berbuat kebaikan.
Allah SWT berfirman:
“Sungguh, orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga ’Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya”. (QS. Surat Al Bayyinah: 7-8).

3. Surga Na’im
Surga Na’im diciptakan oleh Allah swt dari perak putih.
Calon penghuninya adalah orang-orang yang benar-benar bertakwa dan beramal saleh. Sebagaimana firman Allah SWT.

اِنَّ لِلۡمُتَّقِيۡنَ عِنۡدَ رَبِّهِمۡ جَنّٰتِ النَّعِيۡمِ

“Sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa (disediakan) surga-surga yang penuh kenikmatan di sisi Tuhannya.” (QS. Surat Al-Qalam: 34)

اِنَّ الَّذِيۡنَ اٰمَنُوا وَعَمِلُوۡا الصّٰلِحٰتِ لَهُمۡ جَنّٰتُ النَّعِيۡمِۙ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, bagi mereka surga-surga yang penuh kenikmatan” (QS. Surat Luqman :8)

4. Surga Ma’wa
Surga Ma’wa diciptakan oleh Allah swt dari zamrud hijau. Calon penghuninya adalah orang-orang yang benar-benar beriman dan beramal saleh.

اَمَّا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ فَلَهُمۡ جَنّٰتُ الۡمَاۡوٰى نُزُلًاۢ بِمَا كَانُوۡا يَعۡمَلُوۡنَ

“Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, maka bagi mereka surga-surga tempat kediaman, sebagai pahala terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. As-Sajdah:19).

وَاَمَّا مَنۡ خَافَ مَقَامَ رَبِّهٖ وَ نَهَى النَّفۡسَ عَنِ الۡهَوٰىۙفَاِنَّ الۡجَـنَّةَ هِىَ الۡمَاۡوٰىؕ

Orang-orang yang takut pada kebasaran Allah swt dan menahan diri dari hawa nafsu buruk. “Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya. maka sesungguhnya syurgalah tempat tinggal (nya).” (QS. An-Nazi’at:40-41)

5. Surga Darussalam
Surga Darussalam diciptakan oleh Allah swt dari yakut merah. Calon penghuninya adalah orang-orang yang kuat iman dan Islamnya, mengamalkannya ayat-ayat Alquran dalam kehidupan sehari-hari serta mengerjakan amal saleh lainnya karena Allah.

Firman Allah SWT:

لَهُمۡ دَارُ السَّلٰمِ عِنۡدَ رَبِّهِمۡ‌ وَهُوَ وَلِيُّهُمۡ بِمَا كَانُوۡا يَعۡمَلُوۡنَ

“Bagi mereka (disediakan) darussalam (surga) pada sisi Tuhannya dan Dialah Pelindung mereka disebabkan amal-amal saleh yang selalu mereka kerjakan.” (QS. Surat Al-An'am:127)

7. Surga Darul Muqamah
Surga Darul Muqamah diciptakan oleh Allah swt dari permata putih. Calon penghuninya adalah orang-orang yang melakukan banyak kebaikan. Firman Allah SWT.

وَقَالُوا الۡحَمۡدُ لِلّٰهِ الَّذِىۡۤ اَذۡهَبَ عَـنَّا الۡحَزَنَ ؕ اِنَّ رَبَّنَا لَـغَفُوۡرٌ شَكُوۡرُ اۨلَّذِىۡۤ اَحَلَّنَا دَارَ الۡمُقَامَةِ مِنۡ فَضۡلِهٖ‌ۚ لَا يَمَسُّنَا فِيۡهَا نَصَبٌ وَّلَا يَمَسُّنَا فِيۡهَا لُـغُوۡبٌ

“Dan mereka berkata:" Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan duka cita dari kami. Sesungguhnya Tuhan kami benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri. Yang menempatkan kami dalam tempat yang kekal (surga) dari karunia-Nya; di dalamnya kami tiada merasa lelah dan tiada pula merasa lesu ". (QS. Fathir :34-35)

7. Surga Al Maqaamul
Surga Al Maqaamul adalah surga yang diciptakan oleh Allah swt dari emas. Calon penghuninya adalah orang-orang yang sangat beriman (muttaqien), yaitu yang benar-benar bertakwa kepada Allah SWT.

اِنَّ الۡمُتَّقِيۡنَ فِىۡ مَقَامٍ اَمِيۡنٍۙ

Firman Allah: “Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa berada dalam tempat yang aman.” (QS. Ad-Dukhan:51)

8. Surga Khuldi
Surga Khuldi adalah surga yang diciptakan Allah SWT dari marjan merah dan kuning. Calon penghuninya adalah orang-orang yang taat menjalankan perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

Firman Allah SWT:

قُلۡ اَذٰ لِكَ خَيۡرٌ اَمۡ جَنَّةُ الۡخُـلۡدِ الَّتِىۡ وُعِدَ الۡمُتَّقُوۡنَ ‌ؕ كَانَتۡ لَهُمۡ جَزَآءً وَّمَصِيۡرًا لَّهُمۡ فِيۡهَا مَا يَشَآءُوۡنَ خٰلِدِيۡنَ‌ ؕ كَانَ عَلٰى رَبِّكَ وَعۡدًا مَّسۡـــُٔوۡلًا

“Katakanlah:" Apa (azab) yang demikian itukah yang baik, atau surga yang kekal yang telah dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa? Dia menjadi balasan dan tempat kembali bagi mereka.” (QS. Al-Furqan:15)
3. Titik Pusat
Salah satu ciri dari Islam adalah wasathiyah. Kata wasathiyah memiliki beberapa makna, yakni menurut bahasa Indonesia artinya adalah moderasi. Menurut Afifuddin Muhadjir, makna wasathiyah sebetulnya lebih luas dari pada moderasi.
Wasathiyah bisa berarti realistis (Islam Wasathiyah yaitu Islam yang berada di antara realitas dan idealitas). Yakni, Islam memiliki cita-cita yang tinggi dan ideal untuk menyejahterakan umat di dunia dan akhirat. Cita-citanya yang melangit, tapi ketika di hadapkan pada realitas, maka bersedia untuk turun ke bawah.
Wasathiyah yang disebut dalam QS: al-Baqarah 143 dapat juga diartikan jalan di antara ini dan itu. Dapat juga dikontekstualisasikan Islam Wasathiyah adalah tidak liberal dan tidak radikal. Dapat diartikan pula, Islam antara jasmani dan ruhani.
Dalam kitab-kitab fiqih, seorang presiden itu harus mendalam terkait hal agama, mujtahid dan dipilih secara demokratis. Bagaimana ketika yang menjadi presiden justru kebalikannya? Apakah kita harus memberontak?
Tentu tidak, karena memang realitanya seperti demikian. Kitab-kitab fiqih menyatakan, para hakim harus seorang mujtahid dan memiliki kemampuan untuk menggali hukum-hukum dari sumbernya.
Keputusan hakim adalah kepastian dan keadilan. Tapi apabila kebalikannya, yakni tidak terlaksana sebagaimana aturannya. Apakah kita harus memberontak? Tentu tidak, karena memang realitanya seperti demikian.

Meskipun kita harus tetap mengingatkannya, tapi cara yang ditempuh harus baik.

Al-wasathiyah disebutkan dalam QS: al-Baqarah: 143 dan QS: al-Nisā’: 171.

يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ وَلَا تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ إِلَّا الْحَقَّ إِنَّمَا الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ رَسُولُ اللَّهِ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ فَآَمِنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ وَلَا تَقُولُوا ثَلَاثَةٌ انْتَهُوا خَيْرًا لَكُمْ إِنَّمَا اللَّهُ إِلَهٌ وَاحِدٌ سُبْحَانَهُ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَلَدٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَكَفَى بِاللَّهِ وَكِيلًا‎

Artinya: “Wahai Ahli Kitab, janganlah kalian melampaui batas dalam agama kalian, dan janganlah kalian mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya al-Masih, Isa putra Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya.
Maka berimanlah kalian kepada Allah dan Rasul-Rasul-Nya dan janganlah kalian mengatakan: “(Tuhan itu) tiga”, berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagi kalian. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah sebagai Pemelihara”.

خَيْر الْأُمُور أَوْسَاطهَا‎

Artinya: “Sebaik-baiknya perkara itu yang pertengahan”.

Realiasasi wasathiyah dalam ajaran Islam secara garis besar dibagi tiga: akidah, akhlak dan syariat (dalam pengertian sempit). Ajaran akidah berarti terkait konsep ketuhanan dan keimanan. Akhlak berarti terkait penghiasan hati melalui sikap dan perilaku seseorang agar dapat menjadi indivisu mulia.

Sedangkan syariat dalam pengertian sempit, berarti ketentuan-ketentuan praktis yang mengatur hubungan manusia dengan Allah dan hubungan antar sesama manusia (al-ahkam al-‘amaliyah).

Salah satu segmen dalam syariat adalah fiqih. Syariat dari segi sifatnya ada dua: tsabit dan mutaghayyirah. Syariat tsabit adalah syariat yang tidak dapat berubah kapan pun dan di mana pun, sedangkan syariat mutaghayyirah adalah syariat yang dapat berubah sehingga dapat beradaptasi dengan waktu dan tempat.

Akidah, akhlak dan syariat tsabit tidak dapat dirubah. Sedangkan syariat mutaghayyirah dapat berubah sesuai dengan tuntutan zaman dan tempat. Wasathiyah masuk pada akidah, akhlak, syariat tsabit dan mutaghayyirah.

Wasathiyah dalam bidang akidah, seperti posisi Islam yang berada di antara atheisme (tidak percaya Tuhan) dan politisme (kelompok yang percaya adanya banyak Tuhan). Wasathiyah dalam bidang akhlak, seperti posisi di antara khauf (pesimisme) yang berlebihan dan raja’ (optimisme) yang berlebihan.

Optimisme yang berlebihan dapat mengakibatkan orang gampang berbuat dosa, sehingga menganggap dirinya pasti mendapatkan surga. Di antara ayat yang menjadi landasan adalah QS: al-Baqarah: 173:

إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ‎

Artinya: “Sesungguhnya Allah adalah Dzat yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

Sedangkan pesimisme yang berlebihan dapat mengakibatkan orang gampang putus asa. Di antara landasan ayat yang sering digunakan adalah QS: al-A’raf: 99:

أَفَأَمِنُوا مَكْرَ اللَّهِ فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ‎

Artinya: “Apakah mereka tidak percaya ancaman Allah. Maka tidak ada yang dapat merasa aman dari ancaman Allah, kecuali orang-orang yang merugi.”

Di antara contoh orang yang pesimis adalah pembunuh Sayyidina Hamzah dengan memutilasinya. Pada saat masuk Islam, ia merasa pesimis akan kemungkinan mendapatkan ampunan Tuhan dari perbuatan yang sudah dilakukannya tersebut. Kemudian turun QS: al-Zumar: 53.

قُلْ يَاعِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.‎

Artinya: “Katakanlah (Muhammad), wahai hambaku, orang-orang yang sudah berlebihan atas diri mereka sendiri, janganlah kalian putus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengampuni seluruh dosa-dosa. Sesungguhnya Allah adalah Dzat yang Maha Pengampun dan Penyayang.”

Wasathiyah dalam bidang syariat (khususnya ekonomi) diindikasikan dalam QS: al-Furqan: 67, yakni tidak terlalu berlebihan dan tidak terlalu pelit.

وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَلِكَ قَوَامًا‎

Artinya: “dan orang-orang ketika menafkahkan, mereka tidak berlebihan dan tidak pelit dan di antara keduanya adalah ketegakkan.”
Wasathiyah dalam bidang manhaj berarti menggunakan nash al-Qur’an dan hadis yang memiliki hubungan dengan tujuan-tujuan syariat (maqashid al-syari’ah). Nash-nash dan tujuan-tujuan syariatnya memiliki hubungan simbiosis mutualisme, yakni nash-nash yang dapat dijelaskan melalui tujuan-tujuan syariat, sedangkan tujuan-tujuan syariat lahir dari nash-nash Islam.
Tujuan-tujuan syariat merupakan hasil penelitian ulama zaman dahulu, sedangkan yang menjadi objeknya adalah aturan-aturan yang termaktub dalam nash-nash al-Qur’an dan hadis, berikut hikmah-hikmah dan tujuan-tujuan yang hendak dicapai. Tujuan utama syariat adalah kemaslahatan dunia dan akhirat dengan mengindahkan kaidah “menarik kemaslahatan dan menolak kerusakan.”




 

Nikmatnya menjadi penuntut ilmu

“ Jika kalian berjalan dan bertemu dengan taman-taman surga, maka berhentilah. Yaitu majelis-majelis ilmu. Sesungguhnya di sisi Allah ada ma...